Terhubung dengan kami

Wisata Budaya

Kampung Budaya Sindang Barang

Diterbitkan

di

Kata budaya adalah serapan dari bahasa Sansekerta. Artinya adalah segala hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kebudayaan adalah cara hidup, meliputi segala aspek sosial, yang berkembang pada satu daerah, sebagai hasil olah budi dan akal masyarakat di tempat itu. Bahasa dan kesenian adalah bagian dari kebudayaan.

Kebudayaan diwariskan secara turun temurun. Bukan melalui proses genetika, melainkan melalui ajaran. Seiring dengan berkembangnya zaman, kebudayaan asli pada suatu daerah semakin pudar. Karena generasi berikutnya kurang, atau bahkan tidak lagi tertarik untuk melestarikannya. Meskipun kebudayaan mengandung nilai-nilai luhur budi pekerti.

Kampung Budaya Sindangbarang di Bogor, adalah salah satu dari hanya sedikit daerah yang diupayakan untuk dilestarikan. Lingkungannya adalah pedesaan yang asri. Pemandangan alamnya menyejukkan. Juga sarat informasi tentang sejarah. Selain itu, ada berbagai atraksi kesenian.

Penyerapan kebudayaan asing tidak bisa dihindari. Namun, melestarikan milik sendiri adalah persoalan jati diri. Agar kelak para pelanjut generasi memiliki ciri. Sebagai bagian dari keragaman Indonesia yang kita cintai.***

Lanjutkan membaca
Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wisata Budaya

Kopi Pakuan

Diterbitkan

di

Enjih, 45 tahun, mulai memetik buah kopi yang sudah matang. Yaitu yang berwarna merah. Seluruhnya ada 4 hektar lahan yang ditanami kopi Robusta. Lokasinya ada di lereng Gunung Pakuan, Sukamakmur, Bogor.

Ia menggunakan karung yang kedua ujung atasnya diikat dengan tali sehingga membentuk tas selempang untuk menampung kopi hasil petikannya. Satu per satu buah kopi yang berwarna merah dipetiknya. Tangkai buah ditinggalkan melekat pada dahan untuk tempat tumbuh bunga kopi baru pada musim tumbuh berikutnya.

Setelah 4 sampai 5 buah terpetik, buah-buah kopi dimasukkan ke dalam karung yang menyilang di pundak kirinya. Setelah satu pohon habis digarap, ia pindah ke pohon berikutnya. Begitu seterusnya hingga karung penuh.

Untuk dahan yang tidak terjangkau tangan, Enjih menggunakan kayu panjang yang pada ujung atasnya diberi besi pengait. Dengan kayu itu ia tarik dahan lalu memetik kopi-kopinya. Setelah selesai, dahan dikembalikan ke posisi semula untuk membiarkan buah berikutnya tumbuh.

Selesai dipetik dan terkumpul, tahap berikutnya adalah proses pemilahan. Biji-biji kopi sangat rentan terhadap bau. Jika ada 1 biji yang rusak dalam kelompok berisi 10 biji, maka akan mempengaruhi rasa dan aroma 9 butir lainnya.

Proses berikutnya adalah pengkupasan dengan menggunakan alat yang digerakkan dengan kekuatan mesin berbahan bakar bensin. Roda mesin memutar roda pengkupas. Kedua roda tersebut dihubungkan dengan sebuah sabuk. Alat itu terbuat dari kayu. Bikinan Enjih sendiri.

Buah-buah kopi dimasukkan ke dalam lubang berpenampang persegi empat di bagian atas dan menyempit di bagian bawah. Biji-biji kopi yang sudah terkupas dikeluarkan melalui sebuah lubang di bagian depan mesin lalu ditampung menggunakan sebuah wadah kayu yang dialasi karung.

Selanjutnya, biji-biji kopi tersebut didiamkan selama 8 hingga 12 jam, hingga lendirnya mengering. Setelah itu dicuci dan dijemur selama 3 hari. Biji-biji kopi yang sudah kering kemudian ditumbuk di dalam alu untuk memisahkan kulit ari.

Pemisahannya dengan cara ditapih menggunakan tampah. Sama dengan cara memisahkan kulit ari pada beras. Selanjutnya biji-biji kopi tersebut dipilah, antara yang akan dijadikan bibit untuk musim tanam berikutnya dan biji-biji kopi yang akan dijual.

Biji-biji kopi untuk ditanam akan ditabur pada lahan khusus berupa tanah yang dicampur dengan pupuk kandang selama 3 bulan. Setelah tumbuh tunas, tanaman akan dipindahkan ke polybag dan disemai selama 18 bulan.

Sementara itu, lahan tanam juga disiapkan. Pada jalur tanam digali lubang-lubang dengan jarak 2,5 meter. Sebulan menjelang tanam, pada lubang tanam diberi pupuk kandang.

Tanaman kopi dapat dipanen setelah berumur lebih dari 3 tahun. Hasilnya bisa terus menerus dipetik selama 5 bulan.

Pengolahan biji kopi untuk dijual dimulai dari penjemuran. Untuk mendapatkan kualitas terbaik, biji kopi harus dijemur selama sekurangnya 40 hari. Setelah itu kopi digongseng: digoreng tanpa minyak di dalam sebuah tungku khusus, pada suhu 100 derajat Celcius. Lebih atau kurang dari angka itu akan mempengaruhi aromanya.

Biji kopi yang masak sudah siap jual. Enjih biasa menjualnya seharga 250 ribu rupiah per Kilogram. Sudah ada banyak pedagang pengumpul yang menampung hasil kebun tersebut.

Kopi dari Bogor sudah mendapat tempat di pasar Internasional. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Siti Nurianty, mengatakan bahwa sudah ada pesanan untuk mengirim contoh dari beberapa perusahaan di negara-negara Eropa dan Afrika.

Namun, Enjih masih memerlukan uluran tangan para pihak pemangku kepentingan dalam pemasaran kopi. Ia hanya bisa menembus pasar lokal. Itu pun masih dalam lingkup kecil. Yaitu sekitar Sukamakmur saja.***

Lanjutkan membaca

Trending